Cerita Hantu dari Tiga Kerajaan: Ketika Pahlawan Menjadi Penghantu

Periode Tiga Kerajaan (三国, Sānguó, 220–280 M) adalah salah satu era paling berdarah dalam sejarah Tiongkok. Jutaan orang mati dalam peperangan, kelaparan, dan wabah saat tiga negara saingan — Wei (魏), Shu (蜀), dan Wu (吴) — berjuang untuk menguasai Tiongkok. Periode ini menghasilkan pahlawan legendaris: Guan Yu (关羽, Guān Yǔ), Zhuge Liang (诸葛亮, Zhūgě Liàng), Cao Cao (曹操, Cáo Cāo), Zhou Yu (周瑜, Zhōu Yú).

Ini juga menghasilkan hantu legendaris. Dalam budaya di mana kematian yang brutal menciptakan roh yang gelisah, periode kekerasan massal menciptakan banyak roh yang gelisah. Cerita hantu Tiga Kerajaan terjalin dalam narasi sejarah itu sendiri — mereka muncul dalam Romance of the Three Kingdoms (三国演义, Sānguó Yǎnyì), dalam legenda lokal, dan dalam tradisi kuil yang bertahan hingga hari ini.

Ini bukan hanya cerita menakutkan. Ini adalah cerita tentang apa yang terjadi ketika orang-orang hebat mati dengan buruk — dan tentang garis tipis antara pahlawan dan sesosok hantu.

Guan Yu: Dari Hantu Menjadi Dewa

Cerita hantu yang paling luar biasa dalam sejarah Tiongkok adalah tentang hantu yang menjadi dewa.

Guan Yu (关羽, Guān Yǔ, ?–220 M) adalah seorang jenderal dari Shu Han, terkenal karena kesetiaannya, kepiawaian bertarung, dan janggutnya yang megah. Ia ditangkap oleh pasukan Sun Quan (孙权, Sūn Quán) dari Wu dan dieksekusi dengan dipenggal pada tahun 220 M.

Menurut Romance of the Three Kingdoms, hantu Guan Yu muncul segera setelah kematiannya. Kepala yang terpisah itu dikirim ke Cao Cao sebagai hadiah; saat Cao Cao membuka kotak, mata kepala itu terbuka dan janggutnya berdiri. Cao Cao sangat ketakutan sehingga ia memerintahkan pemakaman yang lengkap dengan penghormatan.

Tetapi hantu itu tidak beristirahat. Novel itu menggambarkan jiwa Guan Yu muncul di Gunung Spring Jade (玉泉山, Yùquán Shān), memanggil:

> 还我头来!(Huán wǒ tóu lái!) > "Kembalikan kepalaku!"

Seorang biksu Buddha bernama Pujing (普净, Pǔjìng) menghadapi hantu tersebut dan menunjukkan masalah logis: "Kau meminta kepalamu kembali — tetapi bagaimana dengan kepala semua orang yang kau bunuh? Siapa yang akan mengembalikan milik mereka?"

Hantu Guan Yu, yang tersentuh oleh ajaran Buddha ini, mencapai pencerahan dan berhenti mengganggu.

Tetapi cerita tidak berakhir di situ. Selama berabad-abad berikutnya, hantu Guan Yu secara bertahap dipromosikan melalui birokrasi surgawi:

| Periode | Gelar | Status | |---|---|---| | Dinasti Tang | Dewa pelindung lokal | Dewa minor | | Dinasti Song | Duke (公, gōng) | Dewa regional | | Dinasti Ming | Kaisar Guan (关帝, Guān Dì) | Dewa utama | | Dinasti Qing | Kaisar Suci Guan (关圣帝君, Guān Shèng Dìjūn) | Salah satu dewa tertinggi dalam agama rakyat |

Hari ini, Guan Yu disembah di kuil-kuil di seluruh dunia berbahasa Tiongkok. Ia adalah dewa pelindung tentara, petugas polisi, seniman bela diri, dan — agak kontradiktif — pebisnis dan triad. Gambarnya muncul di restoran, toko, dan kantor polisi.

Trajektori ini luar biasa: terpidana mati → hantu gelisah → roh tercerahkan → dewa minor → dewa tertinggi. Tidak ada tokoh lain dalam agama Tiongkok yang telah melakukan perjalanan ini.

Cao Cao dan Hantu Sakit Kepala

Cao Cao (曹操, Cáo Cāo, 155–220 M), panglima perang yang brilian dan tanpa ampun dari Wei, menderita...

Tentang Penulis

Pakar Dunia Roh \u2014 Folkloris yang mengkhususkan diri dalam tradisi supernatural Tiongkok dan cerita hantu.

Share:𝕏 TwitterFacebookLinkedInReddit